HARUSKAH LEBARAN IDENTIK DENGAN PAKAIAN BARU?

Setiap tahun masyarakat muslim Indonesia merayakan hari raya Idul Fitri atau merayakan lebaran termasuk warga non muslim sebagian juga ada yang ikut merayakannya dengan berkumpul bersama keluarganya.

Merayakan lebaran merupakan tradisi masyarakat muslim Indonesia sejak puluhan bahkan ratusan tahun sudah dilakukan, karena pada waktu lebaranlah seluruh keluarga baik yang jaraknya jauh maupun dekat pada berkumpul semua.

Namun bukan tradisi berkumpul itu yang akan saya tulis disini, ada salah satu tradisi yang sangat menarik saat setiap umat muslim Indonesia merayakan lebaran.

Apa itu?

Apalagi kalau bukan baju baru untuk lebaran, setiap menjelang lebaran tradisi inilah yang membuat heboh dan selalu ditunggu oleh anak – anak, karena pada saat merayakan lebaran ini anak – anak dibelikan baju oleh orang tuanya masing – masing.

Baju baru tanda bagi anak-anak

Baju baru bagi seorang anak merupakan “sesuatu sekali” yang sangat menyenangkan hati mereka, dengan baju barulah anak-anak menjadi ingat dan sebagai penanda bahwa saat ini sedang merayakan hari raya Idul fitri.

Saat mereka berkumpul dengan teman – teman sebayanya, saling menunjukkan bajunya masing – masing, sesekali tercetus dari salah satu mereka “bajuku bagus baru dibelikan ayah sama mama di mall”, yang lain ada yang bilang ” bagus bajuku baru dibelikan nenek di pasar”

Begitulah sedikit cermin kehebohan seorang anak saat merayakan hari lebaran

Tradisi ini sangatlah menyenangkan bagi seorang anak, dan sangatlah wajar seorang anak senang memakai baju baru.

Orang tua tidak kalah hebohnya

Ternyata kehebohan menyiapkan baju baru saat lebaran juga dialami para orang tua, ingat pada minggu terakhir bulan ramadhan toko – toko baju, mall, pasar sesak penuh pembeli

Ada juga keluarga saking banyaknya yang dibeli hingga menjadwal daftar belanjanya, hari ini beli baju untuk anak – anak besok beli baju untuk orang tua, lusa beli baju untuk dikasihkan pada kerabat keluarga

Orang dewasa pun tidak mau kalah sama anak – anak, saat ketemu dengan teman – temannya mata melirik kana kiri sambil agak mencuri — curi pandang berniat membandingkan bajunya dengan baju temannya

Awal mula tradisi baju baru lebaran

Tertulis dalam buku Sejarah Nasional Indonesia karya Maryawati Djoened Poesponegogo dan Nugroho Notosusanto. Dijelaskan jika tradisi membeli baju baru saat Lebaran sudah dimulai sejak tahun 1596 di Banten.

Kesultanan Banten sendiri adalah sebuah kerajaan Islam yang berdiri di Provinsi Banten, Indonesia. Agama Islam jadi “roh” Kesultanan Banten, Budaya masyarakat pun menyerap Islam sebagai bagian yang tidak terpisahkan.

Pada saat itu tradisi di Banten hampir sama seperti saat ini. Menjelang hari raya Idul Fitri, mayoritas penduduk Muslim dibawah kerajaan Banten sibuk menyiapkan baju baru.

Berbeda dengan saat ini, hanya sedikit masyarakat yang membeli baju baru. Karena, mayoritas warga masih menjahit baju sendiri dan keterbatasan teknologi saat itu.

Hanya kalangan kerajaan yang bisa mendapatkan baju bagus untuk Lebaran. Lantas, berbeda dengan hari-hari biasa, mayoritas warga yang bekerja sebagai petani berubah profesi menjadi tukang jahit dadakan menjelang Lebaran.

Bagi sebagian kalangan umat muslim Indonesia memakai baju baru saat lebaran merupakan bentuk dari rasa syukur serta menghormati datangnya bulan 1 Syawal sebagai penanda telah selesai menjalankan ibadah puasa sebulan penuh

Ada juga yang memaknai sebagai penanda terhadap dirinya untuk memulai kehidupan baru yang lebih baik lagi ditahun berikutnya, seperti saat dirinya memakai baju baru

Namun tidak sedikit umat muslim Indonesia yang memaknai baju baru hanya merupakan tradisi saja dalam merayakan lebaran.

Pemakanaan baju baru dalam merayakan lebaran dikembalikan kepada masing – masing umat muslim Indonesia

Karena makna yang besar dari merayakan lebaran adalah terjaganya budaya saling memberi maaf antar keluarga, saudara dan sesama umat muslim khusunya dan umat manusia pada umumnya

Dengan memiliki rasa kesadaran diri membuka pintu hati seluas -luasnya memberikan maaf dan meminta maaf akan melunakkan hati yang selama ini keras

Perayaan lebaran hari raya Idul fitri sejatinya memiliki makna yang dalam, idul fitri menjadi waktu yang baik yang sudah ditetapkan oleh Allah sebagai cara untuk membersihkan hati dari sifat, sombong, iri, dengki, baik dengan keluarga, saudara juga tetangga kanan kiri rumah juga rekan kerja.

Hati yang bersih makna dari Idul Fitri

Bulan 1 syawal tidak hanya 1 hari atau 2 hari saja, namun bulan syawal adalah 1 bulan penuh, menggunakan waktu untuk intropeksi diri selama syawal untuk membersihkan hati dan mungkin cara inilah contoh menghormati idul fitri dengan tepat

Perayaan idul fitri memang telah usai umat muslim kembali melakukan aktifitasnya, petani kembali sudah ditunggu cangkulnya, pekerja kantor sudah ditunggu pekerjaannya yang menumpuk dimeja, begitu juga dengan anak – anak sudah mulai persiapan masuk ke sekolah

Bekas Lebaran Bekas baju

Lebaran usai meninggalkan baju bekas? sudah pasti, begitu juga dengan hati ini? mungkin bisa bekas bisa juga baru, jadikan hati ini selalu baru, wajah baru dan jiwa baru yang lebih pemaaf di hari idul fitri 1440 H ini semoga hati selalu baru meski baju lebaran memakai baju bekas.

Sumber Artikel : Kompasiana.com

Re-RED : Nicko Desire

Publisher : Ariyandy

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *